admin May 27, 2021

Oleh: Suryani,
Mahasiswa Management Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) Angkatan 2021 dan Guru Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah Alam Bintaro.

Ilham…ilham…lindungi dia dari panas, dingin, terik dan hujan hangatkan dia dengan langit sebagai payung kebesaranMU.

Bagaimana perasaanmu saat merasa kehilangan? Tentunya sedih, kesal, kecewa, disalahkan bahkan dihakimi sebagai orang yang tak berguna, yah… Benar, itulah diriku yang lunglai karena tersudut akibat kelalaianku y sehingga menyebabkan perginya Ilham . Ilham adalah anak spesialku dengan diagnosa Autism Syndrome Disorder (ASD) yang memiliki kecenderungan untuk ”kabur” dari rumah. Setelah membaca peta, Ilham selalu ingin melihat wujud asli dari peta yang dilihatnya untuk kemudian diaplikasikan dalam bentuk nyata. Tak kuduga, ribuan kilometer dilaluinya hanya berdasarkan peta yang dibacanya.

Muhammad Akbar Dirgantoro atau Ilham adalah putra pertamaku yang merupakan dewasa berkebutuhan khusus (Autism). Lahir di Jakarta pada 1 Agustus 1994. Saat ini usianya 27 tahun. Namun begitu, di balik kekurangannya Ilham memiliki kepandaian yang sangat luar biasa terutama yang terkait dengan angka. Ilham hafal kode area telepon seluruh dunia dan hafal nomer kode pos seluruh daerah di Indonesia. Prestasi ini tercatat dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Berkat kepandaiannya Ilham dan aku sering diundang dan diwawancarai di stasiun TV.

Autism adalah gangguan perkembangan serius yang mengganggu kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi. Rentang dan keparahan gejala dapat bervariasi, umumnya sulit berkomunikasi dan berinteraksi. Ciri-ciri autism sangat melekat pada diri Ilham, diantaranya terlihat pada perilaku: Interaksi sosial yang tidak sesuai, minim kontak mata, gerakan berulang-ulang (flapping), bergerak tiba-tiba dan sesuka hatinya (impulsive), pengulangan kata dan tindakan secara terus menerus serta marah-marah yang meledak-ledak(tantrum).

Dini hari, 11 Agustus 2018 sekitar pukul 02.00 sudah menjadi kebiasaanku untuk melihat keadaan Ilham di kamarnya. Ternyata Ilham tidak ada. Kupanggil namanya berulang-ulang sambil membangunkan suami dan kedua adik ilham. Setelah kuperiksa pintu dapur ternyata Ilham merusaknya, dan pergi tanpa pamit. Tubuhku terasa lemas dan lunglai mengetahui keadaan ini, begitu juga dengan suami dan kedua adik Ilham. Aku dan suami bergegas mencarinya dengan berpencar ke dua arah yang berbeda. Ya Allah, Ya Rabb, cobaan apalagi yang menimpa keluargaku? Ini sudah kesekian kalinya Ilham pergi dari rumah.

Pembaca, mungkin banyak terlintas dipikiran mereka yang tidak mengerti “Ah,…buat apa dicari? Ilham sudah dewasa nanti juga akan kembali, ” begitu mungkin pikirnya. Tetapi, anakku adalah seorang dewasa autism yang sama sekali tidak mengerti bahaya-bahaya yang bakal menghadangnya. Ilham, kesulitan berkomunikasi dan berinteraksi. Ya Rabb, ..selamatkanlah Ilham dalam petualangannya.

Selanjutnya, aku dan suami, juga adik-adik Ilham melapor ke Kantor Polisi terdekat. Kami mencetak foto Ilham dan membuat keterangan orang hilang. Aku juga posting foto Ilham di Media Sosial, dibantu pihak kepolisian, juga untuk disiarkan di radio-radio dan televisi. Aku berdoa semoga Ilham cepat ditemukan dalam keadaan sehat. Semakin cepat Ilham ditemukan tentu akan semakin berkurang rasa khawatirku. Saat Ilham pergi dari rumah di tahun 2014 selama 8 bulan, saat kembali, tubuh Ilham banyak terdapat luka-luka.

Aku juga mencari Ilham ke seluruh dinas sosial di Jabodetabek. Setiap berkunjung, aku selalu meminta izin untuk melihat seluruh penghuni di sana. Mereka umumnya adalah gelandangan dan orang yang berkeliaran di jalan dan terganggu jiwanya.

Setelah hampir 2 bulan, mulailah ada titik terang tentang keberadaan Ilham. Dari media sosial Facebook, menurut keterangan seorang ibu yang berjualan nasi di Bandar Lampung, dirinya pernah melihat sosok Ilham 3 hari sebelumnya, dengan ciri-ciri yang sangat mirip. Menurut keterangannya, Ilham kelaparan. Kemudian Ilham meminta nasi dan ayam sambil menunjuk dan berbicara dengan bahasa yang kurang jelas. Si ibu memberinya nasi dan tahu, tapi Ilham menolak dan tetap minta ayam.

Berdasarkan cerita ibu tersebut, Aku yakin itu adalah Ilham anakku, karena kesehariannya ayam adalah menu favoritnya. Aku kemudian menelpon suami yang saat itu sedang mencari Ilham di terminal Kalideras. Mendengar khabar ini, suamiku langsung bersemangat dan segera menuju Lampung, menyebrang naik kapal dari Pelabuhan Merak. Ibu penjual nasi kuhubungi untuk memastikan keberadaannya lagi, tapi katanya dia sudah tidak pernah melihat Ilham lagi sejak saat itu.

Suamiku menyusuri hampir seluruh wilayah lampung selama sekitar 8 hari. Setitik harapan tentang keberadaan Ilham mulai terkuak. Pada suatu hari, Beni, seorang karyawan Indomaret Banyuasin Palembang menelponku. Info dari Beni, Ilham pernah mendatangi Indomaret tempatnya bekerja dan meminta roti.

Aku kemudian menanyakan rekaman CCTV yang ada di situ, apakah bisa diperlihatkan dan dikirim guna memastikannya. Ternyata benar, yang terlihat dalam CCTV adalah Ilham anakku, yang selama ini aku cari.

Terlihat wajah lelahnya, bajunya telah berganti dengan baju yang lusuh dan kotor, tanpa mengenakan alas kaki. Jam tangan yang biasa dikenakannya juga sudah lenyap. Air mataku mengalir deras. Rasa sedih bercampur bahagia menjadi satu. Aku kemudian memberitahukan suamiku agar segera menuju Banyu Asin.

Apakah Ilham sudah ditemukan setelah suamiku tiba di lokasi? Hari itu menjadi cerita tersendiri yang sangat membekas di hatiku. Ternyata Ilham tidak datang lagi ke Indomaret tsb.

Sekitar 3 jam setelah itu, seorang ibu bernama ibu Kiki yang tengah mengemudi kendaraannya di KM 19 Musi Banyuasin melihat sosok Ilham yang sebelumnya dilihatnya di Facebook. Tanpa pikir panjang, beliau menghubungi sepupunya untuk membuntuti Ilham. Alhamdullilah, Ilham berhasil diamankan. Kiki tidak berani mendekat karena kondisi Ilham yang lusuh dan kotor membuatnya takut. Ilham juga kadang bertingkah aneh. Akhirnya, Ilham berjumpa kembali dengan ayahnya tercinta. Penantian panjang selama 75 hari usai sudah.

Aku berharap peristiwa ini tidak terjadi lagi. Kami sekeluarga bersyukur atas keajaiban ini, karena Ilham pergi tanpa membawa apapun, hanya pakaian yang melekat di badannya saja. Kejadian ini kujadikan pengalaman dan pelajaran yang tak’kan terlupakan.

Aku kemudian membuat program untuk meminimalisir perilaku Ilham, agar dia ‘betah’ di rumah. Caranya dengan melibatkan Ilham bekerja membantuku membuat kue-kue pesanan pelangganku. Aku ajari Ilham menimbang bahan-bahan kue, dsb. Aku juga memberinya upah dan ini membuatnya senang.

Demikian kisah anakku, Ilham. Semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, khususnya para orang tua yang memiliki anak penyandang Autism, yang telah diberikan kepercayaan oleh Yang Maha Kuasa dan diamanahi buah hati calon penghuni Syurga. Kesabaran dan rasa sayang terhadap buah hati berkebutuhan khusus akan membuahkan hasil yang nyata.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com