Admin of hijaubintaro September 19, 2018

Mendaki gunung bersama teman-teman, mungkin sudah biasa. Bagaimana jika mendaki bersama istri atau suami? Warga Emerald View Sektor 9 Bintaro, Rony Trianto dan sang istri, Nina Parliyani pernah mendaki gunung bersama. Seru banget! Tapi kali ini, ceritanya lebih seru lagi. Pada hari Senin (10/9) hingga Selasa (11/9) mereka mendaki Gunung Gede bersama kedua buah hatinya; Lintang Aurynavisa Putri Trianto dan Banyu Langit Putra Trianto.

Cerita ditulis oleh: Nina Parliyani.

Tulisan kali ini tidak banyak menceritakan tentang jalur pendakian, tetapi saya ingin memberikan alasan kenapa saya dan suami membawa anak-anak kami mendaki gunung.

Semua orang tahu, mendaki gunung kerap kali diidentikan dengan kegiatan “heroik”. Bahkan, ini dianggap olahraga yang menyerempet bahaya. Tetapi kami yakin, dibalik ini semua ada manfaat yang luar biasa dalam pembentukan karakter anak.

Hari Minggu, 10 September lalu saya dan suami mengajak dua anak kami mendaki gunung Gede, lewat jalur Gunung Putri, Cipanas, Jawa Barat. Pendakian dimulai jam 9 pagi. Tiba di Surya Kencana untuk nge-camp jam 17.30. Jalurnya cukup curam dan menantang, terutama untuk anak seusia Banyu.

Esoknya, Senin, 11 September pendakian berlanjut menuju Puncak Gede. Dari Surya Kencana ke puncak Gunung Gede sekitar 1 jam. Dari puncak Gunung Gede, kami turun melewati
jalur Gunung Putri, mulai pukul 14.00, tiba di pos 1 pukul 20.00.

Now I see the secret of making the best person: it is to grow in the open air, and to eat and sleep with the earth.” – Walt Whitman

Manfaat mendaki gunung:

1. Selalu berpikir positif

Seperti kegiatan di alam bebas lainnya, mendaki gunung bagaikan menjalani kehidupan. Aktivitas pendakian gunung memiliki banyak bahan pengajaran pendidikan karakter yaitu bagaimana seseorang menampilkan kebiasaan positif dalam menyikapi segala kejadian yang dihadapinya dalam kehidupan. Melalui kegiatan mendaki gunung, seseorang dapat membangun karakter positif dirinya dengan alami. Karakter tidak mudah menyerah, tidak berkeluh kesah, tetapi tetap penuh perhitungan untuk mencapai tujuan yaitu sampai puncak dan kembali ke rumah dengan selamat.

Saya merasa, melalui kegiatan naik gunung, Lintang, anak saya yang kini berusia 12 tahun tumbuh menjadi anak yang gembira dan percaya diri (tahun lalu saat usinya masih 11 tahun berhasil mendaki gunung Rinjani, Lombok). Pendakian Gunung Gede ini adalah pendakian perdana anak kedua saya, Banyu, yang usianya baru 9 tahun. Banyu kini duduk di bangku kelas 4. Sama dengan kakanya, Banyu merupakan murid Mentari Intercultural School Bintaro.

2. Membangun karakter disiplin

Mendaki gunung mengharuskan seseorang melakukan persiapan dengan baik.
Persiapan itu diantaranya persiapan fisik, penentuan tujuan, merancang target perjalanan, mencari tahu support system yang ada (misalnya letak rumah sakit terdekat), mempelajari tips dan penanganan darurat ketika menghadapi kondisi darurat, atau membuat daftar peralatan dan perbekalan yang dibutuhkan untuk mendaki.

Mendaki gunung mengajarkan disiplin, tanggung jawab, tidak mudah putus asa, serta berani mengambil keputusan dengan tepat. Karena, ketika melakukan pendakian, seseorang dihadapkan pada banyak tantangan. Diantaranya jalanan yang menanjak, beban yang berat, oksigen yang makin menipis, serta kadang jalur yang tidak jelas sehingga dibutuhkan keputusan memilih jalan mana yang harus ditempuh.Seseorang bisa mengelola rasa malas dan lelah demi mencapai tujuan yang diinginkan. Seseorang belajar untuk berlaku berani, namun dengan prinsip berhati-hati.

3. Membangun karakter cinta pada alam dan lingkungan

Rasa cinta pada alam tidak bisa tumbuh hanya dengan melihat brosur perjalanan wisata atau menonton televisi. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat jika ia mengenal objeknya. Dan, mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat.

Dalam perjalanan mendaki gunung, seseorang disuguhkan pada keindahan dan kemegahan alam pegunungan. Dengan hadir secara langsung, semua panca indera terlibat untuk membuktikan alam begitu indah sehingga kita bertanggung jawab untuk selalu memeliharanya.

Saya ingin anak-anak menjadi seseorang yang penuh cinta pada lingkungannya, terasah untuk bertanggung jawab pada dunia, paling tidak pada lingkungan di sekitarnya. Tidak membuang sampah sembarangan atau merusak ekosistem yang ada menjadi pelajaran paling sederhana namun sangat penting yang bisa didapat melalui aktivitas naik gunung.

Nah, di balik kata “heroik” dan penuh bahaya, aktivitas mendaki gunung memberi sejumlah manfaat untuk anak-anak saya. Saya berharap mendaki gunung menjadi kegiatan yang sangat menyenangkan sekaligus menjadi pendidikan karakter bagi dirinya dan orang lain yang ingin menjalaninya.

Jadi, mari mendaki gunung dan jadikan aktivitas ini sebagai ajang mengembangkan karakter anak-anak kita!

Insya Allah tanggal 1-7 Oktober 2018 saya, suami dan Lintang akan mendaki gunung Latimojong yang berada di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Doain ya!

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com