Hijaubintaro.id – Penanganan anak dengan Neuro Developmental Disorder (NDD) memerlukan kesabaran ekstra dan ketepatan metode intervensi. Bagi para orang tua, melihat perkembangan buah hati yang signifikan dalam waktu singkat adalah sebuah anugerah. Hal inilah yang dirasakan oleh seorang ibu bernama Winingsih saat membawa putrinya, Alma, menjalani terapi di Bintaro Kids Care (BKC).
Setelah sempat berpindah-pindah fasilitas kesehatan tanpa hasil yang memuaskan, Winingsih akhirnya menemukan titik terang melalui metode terbaru yang diterapkan di BKC, yakni Drawing Communication Observation Analysis (DCOA).
Akselerasi Perkembangan dalam Waktu Singkat
Ketidakcocokan dengan durasi treatment yang terlalu lama di tempat sebelumnya sempat membuat Winingsih merasa pesimis. Namun, optimisme itu kembali saat ia melihat perubahan nyata pada Alma hanya dalam waktu dua minggu sejak bergabung dengan BKC.
“Meskipun baru dua minggu treatment dan belum full, saya merasakan perkembangan yang cukup cepat. Alma yang tadinya hanya bicara satu kata yang tidak jelas, sekarang sudah mulai ‘cerewet’ dan sangat aktif berinteraksi. Perubahan signifikan inilah yang saya harapkan,” ujar Winingsih kepada hijaubintaro.id
Selain efektivitas terapi, suasana yang homy dan sikap terapis yang kooperatif menjadi nilai tambah bagi orang tua bekerja. Pendekatan kekeluargaan di BKC membantu menciptakan lingkungan yang mendukung psikologis anak maupun orangtua.
Mengenal Metode DCOA: Intervensi Non-Medis untuk Saraf Pusat
Rito Saputra, founder sekaligus pencetus metode DCOA, menjelaskan bahwa teknik ini merupakan inovasi pelatihan otak (senam otak) yang dirancang khusus untuk kondisi NDD, di mana intervensi medis konvensional seringkali memiliki keterbatasan.
“Fokus kami adalah bagaimana otak bisa dikondisikan untuk terus bergerak melalui intervensi terapi, bukan obat-obatan,” jelas Rito. Metodologi DCOA bekerja melalui tiga tahapan analisis mendalam:
Anatomy Pathology: Peninjauan struktur melalui MRI, MRA, dan MRV.
Fisiologi: Melihat apakah fungsi neuron bekerja secara optimal.
Kapasitas Psikologi: Observasi apakah perilaku anak mencerminkan pola normal atau memerlukan penanganan khusus.
Bukan Sekadar Menggambar
Meskipun mengandung kata ‘drawing’, Rito Sebagai Ilmuwan Kesehatan Non Akademis menegaskan bahwa metode ini bukan tentang seni menggambar. Drawing di sini merujuk pada pembuatan coretan atau garis abstrak yang berfungsi sebagai alat komunikasi sederhana bagi anak.
“Coretan ini adalah cara anak mengungkapkan apa yang ada di pikirannya namun belum bisa diartikulasikan secara verbal. Dari sana kita analisis apakah mereka merasa jenuh, takut, atau butuh sesuatu. Ini menjadi jembatan untuk membentuk bonding (ikatan) yang kuat antara terapis dan pasien,” tambahannya.
Fokus pada Diagnosis Neuro Developmental Disorder
Berbeda dengan klinik pada umumnya, BKC melalui metode DCOA tidak lagi mengelompokkan anak secara kaku ke dalam label Autism, ADHD, atau PDD-NOS. Fokus utama dialihkan secara holistik kepada Neuro Developmental Disorder sebagai akar permasalahan saraf pusat. Analisis ini memungkinkan terapis memberikan solusi tepat guna, baik untuk kondisi ringan, sedang, maupun berat.
Keberhasilan Alma menjadi bukti bahwa stimulasi yang tepat dapat memacu kemandirian anak. Bagi Winingsih dan para orangtua lainnya, semangat dan motivasi adalah kunci utama. “Kita harus selalu semangat demi masa depan anak kita,” tutupnya dengan penuh harapan.
Teks/foto: BAS/istimewa
